Aku Hanya Tanda Koma






Kepada Langit Malam, sahabatku. Catatan ini biar kukisahkan padamu saja.  Selain denganmu, aku tak tahu kepada siapa kisah ini kuadukan. Semoga kamu berkenan, sahabat.

***

Senja yang basah. Tak ada jingga yang biasa merona di langit barat. Hanya gerimis yang sesekali memantul di kaca jendela. Jejak hujan lebat siang tadi masih membekas di jalan, menggenang dan sesekali memercik kala beradu dengan roda kendaraan.


“Kak, aku rindu.
Sudah lama kita tak bertemu.
Aku ingin memelukumu.
Aku ingin mencium bau parfummu”

Kalimat-kalimat ini menggaung, menyapaku silih berganti dengan semilir angin sore yang basah. Aku telentang di sofa ruang tamu. Kalimat itu menggaung kembali, kali ini bersama selintas sosok yang membayang. Ia tersenyum, sangat manis.

Ya ... sejak seminggu terakhir sosok ini terus membayang. Ikut kemana langkah kaki kuayun. Ia adalah sosok yang entah bagaimana tiba-tiba saja bertahta di sudut ruang hatiku. Ia mengingatkanku pada detak rindu yang telah kutitip di salah satu sudut beranda waktu masa lalu.   

Padahal, telah puluhan purnama kulewati tanpa rindu yang mendetak. Satu-satunya detak yang masih kutahu hanyalah detak waktu, detak yang selalu setia memilah sekaligus jadi pembatas antara kenangan, kenyataan, dan harapan.

Yang luar biasa, detak rindu itu masih kekenali. Kutemukan di beranda waktu. Meski sedikit berdebu bentuk dan warnanya masih tetap sama seperti dulu.
***
Hujan tak reda. Air masih tampak membulir meninggalkan jejak basah. Tak ada jingga yang meranum. Awan pekat masih menggantung di langit senja.

“Ah ... biarkan saja begitu. Bukankah hujan adalah tarian rindu yang dipentaskan semesta?” batinku

Jika aku boleh merindu, maka semesta pun demikian. Aku dan semesta adalah bagian dari ciptaan yang berhak atas cinta dan kerinduan.

Aku masih telentang di sofa. Entah, sudah berapa batang rokok yang kuhabiskan. Beberapa hari terakhir konsumsi rokokku meningkat. Itu karena kesibukan yang padat. Pada saat yang sama, pola makan dan tidurku juga semakin tak karuan. Di seminggu terakhir, rata-rata waktu tidurku mungkin hanya dua sampai tiga jam dalam sehari. Hal inilah yang membuatku di senja yang basah ini masih dalam posisi telentang di sofa ruang tamu.

Sosok itu kembali melintas. Sosok yang setiap kali membayang selalu membuat jantungku berdetak lebih cepat. Mungkin ini yang disebut detak rindu. Rasa rindu memicu jantung berdetak lebih cepat dari biasanya.

Harusnya aku terlelap sejenak. Ya ... barang sejam atau dua jam. Tapi rindu tak memberiku ruang untuk memilih. Dadaku serasa sesak, didesak rasa rindu. Aku rindu pada matanya yang kadang tiba-tiba menyipit manja. Aku rindu pada senyumnya, dan pada apa saja yang ada padanya.

Bukan itu saja, aku harus menunaikan janjiku untuk menemuinya. Sebab, sejak tiga hari lalu aku berjanji akan menemuinya tapi selalu terhalang oleh kesibukan. Aku tak ingin ia menanggung rindu lebih lama. Aku harus datang menemuinya.

Apa boleh buat, lelah fisikku harus mengalah. Desakan rindu ternyata jauh lebih kuat di banding hanya sekadar lelah fisik. Meski sudut-sudut mataku lebam, sedikit membiru karena kurang tidur, itu tak cukup mampu menghalangi langkahku menuju garasi.

Aku bergegas berpacu di jalan raya. Nyalip sana, nyalip sini yang berakibat sumpah serapah di sana-sini oleh pegendara lainnya. Maklum, di waktu sore, jalan-jalan menjadi padat. Kuanggap saja itu adalah pengorbananku untuk sebuah rindu.

Tujuanku adalah tempat kerjanya. Disanalah pertama kali jiwa kami bertaut. Aku bermaksud memberinya kejutan.

Sayang sekali, niat memberi surprise itu tak kesampaian. Karena tak tahan dengan kerinduan, di tengah perjalanan aku menghubunginya via telepon. Terdengar suara renyah di ujung telepon. Suara sama yang selama ini membuat hatiku damai.

“Hari ini aku tidak masuk kerja kk, aku sekarang di kost. Tidak maukah kk menjengukku?”

“Hampir saja salah alamat,” batinku

Kuputar arah kendaraanku menuju tempat kost tanpa memberitahu kalau aku mau kesana.

Tepat di depan rumah berpetak-petak itu, kukirim sebuah pesan singkat. “Aku berada di depan kostmu. Jika berkenan, keluarlah. Temui aku yang sekarat menanggung beban rindu ini,” kataku sedikit lebay.

Keadaan fisikku tiba-tiba drop. Rasa kantuk tak dapat kutahan. Aku lalu tertidur dipelukannya, meski tidak lama. Lalu kami bergabung masuk di kamar kost bersama beberapa orang lain temannya yang sejak tadi berada di kost itu.

Layaknya sepasang hati yang merindu, kami bercanda dan bercerita banyak hal. Lega, damai, itu sudah pasti. Aku menumpahkan rinduku yang menyesakkan.
“Ada yang ingin kubicarakan. Kita keluar yuk, di halaman saja,” katanya setengah berbisik.

Kujawab dengan anggukan, tanda setuju.

Langkah kami tertahan dengan suara deru motor yang kedengarannya berhenti persis di halaman kost. Kulihat mimik mukanya berubah, pucat. Ia kembali menutup pintu.

Ia bicara sendiri dengan mimik wajah gundah dan semakin memucat, “Aku harus bilang apa? Apa alasanku?”

Meski sudah menduga apa yang terjadi, kutanya, “Siapa?”

“Cowokku kak,” jawabnya singkat.

“Ooohhhh ... !!!“

Jawaban itu rasanya seperti dicabik-cabik hingga ke tulang belulang. Hatiku yang semula berbunga tiba-tiba merapuh seperti dahan pohon yang lapuk oleh hujan. Hatiku memercik tak tentu arah, serupa genangan air di jalan depan kost itu yang beradu dengan laju roda kendaraan.

Tapi, tahukah kamu sahabatku? Di tengah rasa sakit yang teramat sangat, pada sisi lain hatiku terbangun rasa lega dan juga bangga. Tentu saja bangga pada diriku. Karena berhasil membuktikan meski hanya untuk diriku sendiri, bahwa aku memang benar-benar mencintainya. Aku sayang padanya seperti yang selama ini kukatakan padanya. Aku punya cinta yang sejati untuknya.

Kamu tahu bagaimana aku mengetahuinya Sahabatku?
Saat kulihat ia panik dan bingung, tidak tahu akan berbuat apa, naluriku tergerak untuk ingin menolongnya. Aku tak tahan melihatnya berada dalam keadaan yang sulit seperti itu. Ada semacam dorongan dari hatiku untuk melakukan tindakan apapun yang membuatnya keluar dari keadaan yang rumit itu.

“Tidak perlu bingung, keluar saja temui dia. Katakan, aku adalah pamanmu,” kataku setengah berbisik

Aku bangga, karena dapat melakukan sesuatu untuknya, minimal mengurangi kadar beban masalah di saat genting seperti itu. Dalam kondisi begini, yang kutahu, tidak semua orang bisa mengalah. Karena rasa sayang, aku bisa melakukan itu meski dengan menelan ludah getir.

***
Aku terluka, tersayat, atau apa saja, itu tidak penting. Andai kisah ini adalah lakon teater, skenario memang telah menetapkan lakon yang aku perankan untuk terluka. Cepat atau lambat itu pasti terjadi, terluka!

Karena pada dasarnya, aku memang hanya serupa tanda (,) koma dalam kisah hidupnya, bukan tanda (.) titik. Maka, ibarat tulisan, sangat wajar jika kisah itu terus berlanjut. Sementara aku? Harus ikhlas dan mau menerima tertinggal sendiri, mungkin di tengah tulisan, atau bahkan di tengah paragraf.

Sejak aku memutuskan takluk dalam pelukan rindu, sebenarnya sejak saat itu pula aku sudah bersiap untuk terluka. Sebab, selain gelak tawa, rindu juga menggenggam sebilah belati, berkilau tajam. Hanya menunggu giliran, lalu belati itu menghujam hati, berkali-kali. Dan itu aku tahu pasti. Sebab dibelahan waktu lain, rindu pernah memasung dan membunuhku dengan tikaman belatinya.

Ibarat aku ini adalah daun yang diluruhkan pohon, jangan khawatir, tidak akan ada kecewa apalagi marah. Memang sudah takdirnya seperti itu. Jika waktunya telah tiba daun memang harus meninggalkan ranting, luruh ke bumi, mengering, diurai bakteri, lalu ... hilang.

Dengan menggugurkan diri dari ranting, pohon bisa bertahan dari amukan ranggas kemarau. Memilih luruh sesungguhnya daun sedang menunjukkan betapa besar cintanya pada pohon.

Maka, abaikan saja daun. Biarkan ia meluruh, dan tunaikan persembahan cintanya. Karena cinta yang sesungguhnya adalah pengorbanan, bukan yang lain. Dan, daun yang meluruh adalah simbol pengorbanan cinta sejati.

Meski telah hilang dan terlupakan, percayalah daun yang luruh itu akan selalu ada untuk pohon walau mungkin dalam wujud yang lain.

Terima kasih, telah pernah menempatkanku dalam bagian kisahmu, meski itu hanya tanda untuk jeda sejenak di tengah tulisan, tanda koma.

*Ditulis oleh SI DAUN KERING, jelang tengah malam I Kamis, 26 Januari 2017 I
  

Diberdayakan oleh Blogger.