Tentang Rindu Yang Tak Kupahami
Suatu ketika seseorang bertanya, “Pernahkah kamu merindukan seseorang?” Sebagai manusia normal yang puya rasa, tentu saja aku pernah merasakan itu. Bahkan lebih dari itu, aku juga pernah merasakan dirindukan oleh seseorang.
“Lalu, apa itu rindu?” Katanya sekali lagi.
Karena aku bukan ahli atau minimal pernah mendalami ilmu linguistik, maka kujawab saja seperti yang pernah kurasakan. “Rindu adalah rasa untuk selalu ingin dekat pada seseorang,” setidaknya begitulah rasaku ketika itu, di masa lalu, saat Dika masih terengkuh.
Rindu, bagiku adalah ketika imajinasi sesak dengan segala hal yang menyangkut Dika, kekasihku. Tentang senyumnya, keusilannya, atau pujiannya yang kadang tiba-tiba membuatku serasa melepuh.
“Apakah kamu tahu, apa yang lebih indah dari keindahan ranum senja?” Kata Dika suatu sore di sebuah taman kota.
Kupikir itu pertanyaan serius, jadi aku pun dengan kesungguhan mencari tahu jawabannya. Sekadar untuk ditahu, aku itu sangat suka dengan panorama senja. Rumahku yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari dermaga kapal feri, membuatku sering mengantar menyapa senja di jembatan dermaga itu.
Aku punya banyak koleksi foto panorama senja, kebanyakan kujepret dari atas jembatan dermaga itu. Yang terbaik tak kurang dari lima foto. Itu telah kubingkai rapi, kini menghias dinding kamar tidurku.
“Tidak ada,” kataku
“Ada,” kata Dika
“Itu mungkin menurutmu, silahkan saja. Tapi bagiku, hal terindah di semesta ini adalah panorama senja dengan corak jingganya yang kadang seperti meranum,” tuturku dengan raut muka yang sengaja kubuat-buat seperti orang cemberut.
Saat kupasang muka cemberut, meski itu hanya kubuat-buat, biasanya Dika mengalah, lalu dia merayuku, membelai rambutku.
Cemberutku sore itu bukan dongkol karena kengototannya yang tidak biasa itu. Aku hanya ingin dirayu dan dibelai. Itu saja. “Ah ... Dika, rayu aku, bujuk aku,” batinku ketika itu.
Sebenarnya aku bisa saja langsung minta dibelai. Toh, sebentar lagi aku dan Dika menuju pelaminan. Orang tua kami pun sudah setuju. Tapi, ah ... tidak lucu. Masa seorang gadis yang minta dibelai. Apa kata dunia nanti?
Cukup lama aku membelakanginya. “Diiiikaaaaaaaaaaaa ... mengapa tidak juga membelaiku?” Teriak batinku.
Tidak ada gerakan apa pun darinya. Aku mulai salah tingkah. Bingung mau bikin apa. Tetap bertahan dalam posisi balik badan, membelakanginya, sementara aku tahu sudah ada tanda-tanda strategi ini tidak berhasil. Mau berbalik menatap Dika juga aku gengsi.
Kali ini bukan lagi pura-pura, karena kikuk dengan keadaan yang tidak biasa ini rasa kesal, was-was mulai menjalar perlahan. Aku takut kepergian Dika keluar kota selama tiga minggu terakhir ini membuatnya berubah. Ia melupakan kelaziman dan kebiasaan kami.
“Jangan-jangan ... ah, tidak mungkin,” batinku mulai merangkai kecurigaan.
Kecurigaanku itu logis, sikapnya padaku seperti bukan Dika. Padahal tiga minggu kami tidak ketemu. Komunikasi hanya lewat telepon atau via BBM atau WA.
Apa boleh buat, aku harus membalikkan badan. Aku mengalah. Bukan, bukan mengalah. Aku berbalik untuk mengadili kejahatan Dika karena telah membuatku cemas. “Dikaaa ... kau akan dihukum,” begitu kata batinku, seraya berbalik ke arah Dika yang duduk di samping kananku.
Sebuah senyum menyambutku. Jenis senyum itu sangat kukenali. Senyum usil ala Dika. Jika jenis senyum itu yang tersungging, ini pertanda ada hal konyol yang akan dilakukan Dika. “Ini Dikaku, masih sama. Ia tidak berubah,” batinku disergap bimbang.
Benar saja, keusilan itu mulai dilancarkan. Senyum menggantung itu tiba-tiba berganti serius. Mimiknya seperti seorang ayah penuh wibawa yang sedang menasehati anaknya. Kedua tangannya memegang pundakku. Matanya menatapku, serasa menembus sisi terdalam hatiku.
“Sayang ... aku tidak bohong. Kaulah keindahan itu. Dimataku, bahkan keindahan seribu senja pun tak akan pernah bisa menandingi pesonamu,” katanya pelan setengah berbisik.
Perlahan ia mencium keningku, persis kala matahari senja seperti menghilang di balik barisan gunung yang jauh dihadapanku.
Begitulah Dika. Ia sangat tahu bagaimana cara membuatku seperti orang lumpuh. Aku benar-benar tak berdaya dihadapan pesonanya. Caranya memperlakukanku, menatapku, merayuku, selalu saja membuatku meleleh seperti sebatang lilin yang dipanasi.
Dika membuat hidupku lebih berwarna. Beragam corak warna tersaji, lebur mencipta keindahan. Semua hal disekitarku adalah keindahan. Pesona cinta Dika-lah yang membuatnya seperti itu.
Aku tersenyum-senyum seperti orang gila juga sering terjadi, ketika semua hal disekitarku terlihat seperti Dika. Ah ... Dika, kaulah rindu itu.
Rindu itu adalah keindahan.
Rindu itu adalah kegilaan.
Rindu itu adalah Dika, senyumnya, usilnya, cara menatapnya. Pokoknya semua hal tentang Dika, bahkan mungkin tangisannya.
Sayangnya, aku belum pernah dengar ia menangis. Hanya ini satu-satunya yang kuduga-duga. Aku ingin sekali melihatnya menangis. Bukan jahat. Hanya ingin tahu, apakah tangisannya itu juga mencipta keindahan dihatiku?
Di sepanjang waktu aku memikirkan caranya. Tapi nihil. Aku kehabisan akal untuk membuatnya menangis. Aku tak tahu caranya membuat ia sedih. Bukankah sedih adalah jalan untuk menangis?
Aku menyerah. Aku tak berhasil menaklukkan tangisannya. Senyumnya lebih kokoh. Apa saja yang kulakukan selalu menjadi alasan baginya untuk tersenyum.
“Kau adalah alasan mengapa senyum ini ada,” kata Dika suatu waktu
Ketika kutanya, “bagaimana cara membuatmu menangis?”
“Mudah, tangis itu adalah ekspresi jeritan hati. Maka, buatlah hatiku menjerit, buat ia seperti keindahan taman yang diamuk badai tornado. Aku pasti nangis,”
“Caranya?” Kataku
“Buat aku kehilangan dirimu. Kaulah rahasia tangisku. Kaulah rahasia seyumku. Kaulah yang membentuk serpihan hatiku hingga menemukan bentuk. Maka, hanya kau pula yang bisa membuatnya kembali menjadi serpihan bahkan tanpa bentuk,” katanya.
Kuyakini, itu kejujuran. Aku tahu Dika. Aku tahu kapan ia bohong, kapan bercanda, kapan usil, dan kapan ia bicara serius. 4 tahun menurutku cukup panjang untuk mengenali karakternya.
Tangis itu, kata Dika, ada dua macam, yaitu tangis dengan air mata dan tanpa air mata.
“Jika ingin menangis, menangislah! Biarkan air matamu mengalir bersamanya,” katanya seraya merengkuh kepalaku lalu menyandarkan dipundaknya.
“Jangan menangis dalam diam, sayang! Perlihatkan padaku saat kau menangis, agar kutahu kau sedang sedih. Jika diam, bagaimana aku bisa meredakan tangismu?” Kata Dika pada waktu yang lain.
Sejak itu aku berkesimpulan, tidak ada daya apapun yang dapat kulakukan untuk melihat Dika menangis. Sebab, jika syaratnya aku harus menjadi orang asing, atau pergi dari kehidupan Dika, bagaimana mungkin itu aku bisa lakukan? Tak apa, biarlah, untuk urusan tangis Dika, aku menduga-duga saja.
Begitu pendapatku tentang ‘Rindu’. Rindu itu adalah Dika, rindu adalah keindahan, rindu adalah aku yang tersenyum-senyum seperti orang gila. Aku begitu yakin dengan pemahamanku ini, meski kuanggap hanya berlaku untuk diriku sendiri.
Hingga, suatu waktu kenyataan memaksaku untuk mengkaji ulang definisiku itu. Bermula dari denting tanda pesan WA menyasar smarphoneku. Saat itu, sedianya aku sedang siap-siap menuju jembatan dermaga, mengabadikan keindahan senja.
“Segera ke rumah sakit. Aku, ayah, dan juga ibu telah di sini,” begitu bunyi pesan Winda, adik bungsuku.
Ada apa dan siapa di rumah sakit, aku tidak tahu persis. Hanya naluriku menangkap isyarat kurang baik dari pesan Winda itu. Aku bergegas menuju rumah sakit yang disebut Winda.
Mata ibu sembab, ayah pun begitu. Disana juga terlihat Paman Rahmat, ayah Dika. Nampaknya, ia pun menangis. Aku semakin bingung. Dengan tangis terisak, Tante Erna, Ibu Dika memberiku secarik kertas. Sepertinya sebuah surat, ditulis telah cukup lama.
Untuk Kekasih Hatiku, Dinda
Catatan ini kutulis telah cukup lama, mungkin sekitar 6 bulan lalu, beberapa saat setelah dokter menvonisku mengidap penyakit jantung stadium tiga. Kata dokter, dari sisi medis, aku paling bisa bertahan hingga enam bulan.
Sebelumnya, aku bulat ingin menceritakan ini kepadamu. Masih ingatkan sore itu ketika kita duduk di taman kota? Aku mengajakmu kesana untuk ini. Aku ingin bercerita tentang vonis dokter itu.
Melihat kebahagiaanmu ketika itu, aku menjadi ragu. Tak patut aku merusak keceriaanmu. Lalu aku berpikir, biarlah pada saatnya nanti, pada saat yang tepat aku akan mengatakannya padamu. Waktu yang tepat itu adalah hari ini.
Aku yang minta pada ayah dan juga ibu agar kau mengetahui kabar tentangku bukan dari orang lain. Tapi dari aku sendiri, meski hanya melalui surat ini.
Sungguh, aku tahu, caraku kurang sopan. Seharusnya aku bicara langsung padamu, bukan melalui surat. Kau masih percaya padaku bukan? Aku pun ingin melakukan itu, berbicara langsung memberitahumu jika waktu yang tepat telah tiba.
Apa boleh buat, kala waktu yang tepat itu telah tiba, aku tak lagi sanggup bicara. Lidahku kelu, sekujur tubuhku kaku, serta bagian tubuhku lainnya tak lagi dapat digerakkan. Karena kehidupan sudah tidak bersemayam dalam ragaku. Sukmaku telah menghadap Sang Pencipta. Aku telah tiada.
Dinda Kekasihku,
Maafkan aku yang tak bisa menemani perjalanan hidupmu
Maafkan aku yang pergi begitu cepat
Maafkan atas salah dan juga usilku
Percayalah, semua itu tidak berarti bahwa aku tidak mencintaimu
Aku sungguh sayang padamu, kekasihku.
Aku sangat tahu kamu sayang padaku
Begitu juga, Ayah dan Ibu, mereka sangat sayang padaku
Itu kutahu pasti.
Maka, aku mohon penuhilah permintaan terakhirku
Permintaan ini juga sudah kukatakan pada Ayah dan Ibu jauh hari
Bahwa di saat terakhirku bersama kalian, orang-orang yang kusayangi
Tolong, jangan ada air mata
Ikhlaskan kepergianku
Dinda,
Selamat tinggal sayang
Jaga dirimu
Aku izin pamit
Berjanjilah untuk melanjutkan hidupmu
“Dika”
***
Dicatatan harianku kutulis
Hari ini, dua tahun kepergianmu. Maaf, aku belum bisa menjadi Dinda yang kau mau. Maaf, jika rinduku masih tertuju untukmu. Maaf, jika semua tentangmu, yang dulu kusebut ‘rindu’ masih saja memenuhi ruang imajinasiku.
Dika Kekasihku,
Tapi mengapa semua jadi berbeda? Mengapa aku tak lagi bisa tersenyum-senyum sendiri seperti dulu? Padahal objek imajinasiku masih tetap sama, tentang dirimu.
Kau tahu sayang? Rindu ini benar-benar tak kupahami. Tak lagi seperti dulu. Ketika imajinasi tentangmu menyapaku, rindu yang dulu menjelma indah kini berubah. Aku seperti disergap hampa dan kesedihan.
Dika,
Saat ingin menangis, aku bingung, kepada siapa air mata ini kutunjukkan? Siapa yang bisa meneduhkan hatiku? Kepada bahu siapa kepala ini kusandarkan?
Mungkin inilah yang kamu maksud, tangis tanpa air mata. Iya, sayang. Aku kini menangis dalam diam. Tak ada air mata, tak ada reaksi tubuh. Aku lunglai dalam kehampaan, sesak oleh rindu yang tidak kupahami.
“Dinda”
Ini catatanku yang lain untukmu kekasihku
Pada kebekuan dingin pagi
Pada basah yang mewujud embun
Ada cinta yang bertasbih
Ada rindu yang melafal bait doa
Dihadapan pusaramu
Bening air menetes
Bukan hujan
Bukan pula embun
Itu dari mataku
Mata yang perlahan kerontang
Seperti cemara yang diranggas kemarau
Kau tahu kekasihku?
Ketika langit timur masih samar
Aku sudah di sini
Bersama embun pagi
Menjaga lelapmu
Tidurlah yang lelap kekasihku
Cintaku
“Dinda”
(Penulis: 4QU1L45)

Leave a Comment