Senja Tanpa Jingga



Jingga, kadang seperti meranum, kadang juga merona, seperti seseorang yang sedang tersipu malu. Ia penunggu senja, begitu kalimat yang kutulis beberapa waktu silam. Sebagian temanku bahkan mendaulatnya sebagai penanda senja.


Sore ini ia tak tampak. Mungkin sedang di senja yang lain, sedang melukis. Ya... ia adalah Sang Pelukis Senja.

Sore ini, aku menunggunya di tempat biasa, di Anjungan Pantai Losari. Hingga malam menjelang, ia tak juga nampak. Padahal, hujan mereda sejak tadi. Jejaknya sudah tak banyak tersisa. Beberapa helai daun di ranting dahan yang tak jauh dari tempatku juga kelihatan mulai mengering. Mungkin akibat iring-iringan truk tronton pengangkut material bangunan yang lalu lalang dari arah Tanjung Bunga. Setiap kali iring-iringan ini lewat, mereka mencipta desau angin, seperti suara puting beliung. Ah ... bukan, anaknya. Anak angin puting beliung.

Handpnoneku mendenting. Sebuah pesan WA masuk. “Segera merapat, teman sudah pada ngumpul. Tugas mata kuliah Pengantar Filsafat deadline besok, jam 10 pagi. (Dari Jingga)”

Aku beranjak, sedikit bergegas menuju parkiran. “Besok aku kembali kesini, menemuimu,” kataku, entah kepada siapa, mungkin kepada angin pantai yang mendesau itu. (Aquila*)

Diberdayakan oleh Blogger.