Dia Kusebut Nilam (1)
Aquila
Ia bernama NILAM. Sosok gadis pemilik wajah teduh yang kutemui di perpustakaan kampus tempo hari. Empat bulan terakhir, bayang wajahnya yang teduh itu setia menyambangi ruang imajinasiku. Sesekali menjadi pelakon dalam cerita mimpiku.
Sejujurnya, aku tidak tahu banyak tentangnya. Yang kutahu pasti, bibirnya selalu mengulum senyum, hidungnya bangir, dan sorot matanya mendamaikan. Ia tampak anggun dengan jilbabnya. Menurutku, ia tidak termasuk gadis pengguna pensil alis. Bahkan sepertinya ia memang bukan pesolek.
Ini pengetahuanku yang paling berharga tentangnya, biar kuberitahu kawan. Di jeda jam kuliah aku tahu di mana ia berada. Akan kuberitahu, tapi jangan bilang kepada siapapun. Ia betah berada di perpustakaan. Untuk sementara hanya itu yang kutahu.
Kawan, kalau yang ini cukup menjadi rahasia kita. Jangan sampai ia mendengarnya. Andai ini dokumen negara, sifat kerahasiaannya adalah “super rahasia”. Tidak boleh bocor, bahkan ke intelejen sekalipun.
Ini soal nama NILAM. Sebenarnya, aku belum tahu namanya. NILAM, itu penyebutanku saja agar lebih mudah menyapa bayangnya. Jika ditimbang-timbang, ini termasuk kelancangan. Ia bisa marah karena aku telah mengganti namanya. Ayah-ibunya jangan bilang, mereka mungkin akan sangat tersinggung dengan kelancanganku ini. Sungguh, sama sekali tak ada maksud untuk lancang.
Selama tidak ada yang bilang padanya, aku merasa masih aman-aman saja. Yang tahu kalau aku menyebutnya NILAM hanya aku sendiri. Tidak ada yang lain. Sebenarnya aku bisa saja menyebutnya Melati, Mawar, atau Kasturi. Entah, aku merasa lebih nyaman dengan sebutan NILAM. Nama ini terasa pas dengan gesturnya.
***
NILAM telah kujadikan kekasih, tepatnya kekasih imajiner. Ia kunobatkan bertahta di atas Singgasana Istana Imajinasiku. Ia adalah Ratu yang mendampingiku.
Sejak penobatan itu, aku selalu mencoret-coret bait-bait puisi tentangnya. Namanya saja coret-coret, puisinya tidak terlalu bagus. Diksinya pun amburadul, begitu kata sahabatku suatu waktu.
Bagiku, itu tak masalah. Toh ... bait puisi itu tidak kutulis untuk sahabatku. Tapi untuk kekasihku NILAM. Aku pastikan, NILAM tidak akan protes karena ia memang tidak pernah tahu bahwa puisi itu untuknya.
Bisa saja naskah puisi itu sampai di tangan NILAM, karena beberapa diantaranya aku upload di akun media sosial. Tidak perlu risau, meski ia mengeja aksara demi aksara hingga melafalkannya dengan intonasi yang sempurna, ia juga tidak bakal tahu bahwa puisi itu ditujukan padanya.
Meskipun demikian, setiap kali merangkai bait puisi atau sepenggal narasi, aku menganggap (seolah-olah) ia tahu. Kuanggap puisiku sampai padanya, lalu ia baca dengan penuh kebahagiaan. Ah ... rasa yang begitu sempurna.
“Ha ... ha ... ha ... cintamu gila,” kata Rahman, sahabatku, ketika aku bercerita padanya tentang kisahku dengan NILAM. Tentu saja tidak kuberitahukan siapa NILAM yang sebenarnya.
“Ya ... ya ... ya ... mungkin kau benar, jika itu ditinjau dari sudut pandangmu,” kataku. “Tapi, belum tentu benar jika dilihat dari sudut pandang yang lain, misalnya dilihat dari sudut pandangku.”
Aku sudah barang tentu memiliki dasar pertimbangan sendiri untuk menentukan dari posisi mana harus memandang. Tenang kawan, akan kuberitahu nanti. Jangan sekarang, belum waktunya.
Bagiku, NILAM itu seperti terang cahaya purnama yang membingkai indah langit malam. Aku bisa menikmati cahayanya meski purnama tak mengenalku. Bukankah Purnama memang tak perlu mengenali lekuk wajah setiap penyair atau mereka yang sekadar menjadi pengagum keindahan? Sebab pada kodratnya, Purnama juga tidak bisa menyembunyikan keelokannya dari wajah-wajah yang tidak ia kenal.
Maka menurutku, biarkan saja purnama seperti itu. Tetap dalam lakon kodratnya. Ia adalah keindahan bagi semua mata, tanpa terkecuali. Begini lebih baik.
Dengan begitu, kita dan juga Purnama akan terhindar dari beban rasa. Ya ... beban yang mungkin saja berujung pada masalah pelik.
Maka, kita bisa menikmati sinar purnama dengan cara masing-masing tanpa sungkan. Mungkin dengan memetik gitar lalu bernyanyi tentang purnama atau bisa juga dengan menulis satu atau dua bait sajak soal keelokan purnama.
Sebaliknya, hal yang sama juga berlaku bagi Purnama. Ia berhak atas otoritasnya, kapan menampakkan diri dan kapan tidak. Ketika awan pekat memonopoli purnama, akan menjadi tak elok jika kita tiba-tiba cemberut atau memendam kesal pada purnama.
“Heu .. heu .. heu ... analogimu sesat pemuda. Purnama dan NILAM itu jauh berbeda. Purnama itu tak akan pernah dimiliki oleh hanya satu manusia, sehebat apapun dia. Memang sudah takdirnya seperti itu,” kata Sahabatku sekali lagi, seperti sedang mengejek kebodohanku. Ia memang kadang-kadang cerewet.
“Beda dengan NILAM, kelak ia akan menjadi milik suaminya. Tidakkah kau ingin menjadi pemilik hati NILAM?”
“Benar, dari segi itu memang beda. Tapi, ia memiliki kesamaan yang lebih kental,” kataku tak mau kalah
“Katakan padaku Pemuda, di mana letak kesamaan keduanya?”
“NILAM dan Purnama sama tingginya bagiku. Keduanya tak akan pernah bisa kurengkuh. Keduanya hanya bisa kulihat dari jauh.”
“Ah ... kamu terlalu sentimentil Pemuda. Lihat aku, apa hebatku hingga bisa jadian dengan Shinta?”
Meski batinku membenarkan ucapannya, tapi lagakku seolah tak peduli. Memang, jika dipikir-pikir apa hebatnya sahabatku ini. Muka pas-pasan. Urusan dompet, apa lagi. Di bulan ini saja sudah RP.300 ribu uangku ia pinjam. Satu-satunya modalnya adalah pandai berkata-kata. Ia memang pandai merayu, satu lagi, ia nekat.
Karena jadwal kuliahku sebentar lagi tiba, aku bergegas mandi. Berias sejenak, alakadarnya. Hanya sisir rambut, pakai lotion, dan sedikit parfum. Kutinggal Rahman sendiri di kamar kost.
Tak berselang lama, motor buntutku sudah tiba di halaman kampus. Kupilih tempat parkir tepat di depan Fakultas Sospol.
*Bersambung

Leave a Comment